Review: Sabayon Linux 3.4
Monday, October 29th, 2007 | Linux, Review
Sabayon Linux, merupakan salah satu turunan Gentoo. Gentoo merupakan sebuah sistem operasi bebas berbasis source (Linux maupun FreeBSD) dengan metode instalasi kompilasi dan optimasi untuk CPU yang bersangkutan, dengan model kustomisasi semua paket atau hanya paket aplikasi yang dibutuhkan. Gentoo tidak didesain untuk pengguna pemula, salah satunya karena instalasi Gentoo dengan metode kompilasi secara langsung itu bisa memakan waktu lama, walaupun tidak menutup kemungkinan bagi para pemula kalau ingin belajar serius mencoba dan memakai sistem Gentoo.
Tapi, Gentoo lewat dulu… Sekarang disini kita akan mencoba turunannya dulu saja yaitu Sabayon Linux, yang telah dipaketkan ‘sedemikian hingga’ untuk mudah digunakan. Iseng-iseng pas Sabayon rilis versi 3.4e, download yang versi DVD untuk komputer 32bit, walaupun ada rilis Sabayon Mini Edition yang seukuran CD. Wah, download DVD ini memakan waktu 4 hari tapi stop dan resume, tidak langsung terus menerus. Tidak menjadi masalah, ya.. paling listriknya nambah dikit bayarnya
Iseng-iseng ini menggunakan laptop Toshiba Satellite M35X-S311 dengan spek yang seadanya sebagai berikut:
- Intel Pentium M 715 / 1.5 GHz
- 512MB DDR SDRAM PC2700
- Hard disk 60GB
- Onboard VGA Intel Extreme
Sabayon Linux ini dikemas dengan model LiveCD atau LiveDVD, jadi kita bisa mencobanya terlebih dulu bagaimana sistem berjalan. Booting awal Sabayon dengan tampilan:
- Start Sabayon Linux 3.4
- Start without music
- Anonymous Internet Browsing
- Start Graphical Installation
- Start Text Installation
- XsistenCe (Persistent Home)
- Play with Sauerbraten (Game)
- Play with Savage (Game)



Wow, ternyata ada built-in gamenya juga. Tapi selain Start Sabayon Linux 3.4, tidak ada yang kucoba menu-menu yang lain tersebut. Wah, bootingnya lumayan sedikit lama, tapi masalah bukan pada distronya, emang DVDROM-nya yang udah mulai kurang beres dan media DVDku yang juga udah kotor sebelum dibakar, jadi ya agak sedikit susah dibaca oleh DVDROM
Sebelum masuk ke desktop, kita berhenti pada Sabayon Linux Desktop Accerelation, bertungsi untuk mengaktifkan Compiz/Beryl.
- No Desktop Acceleration
- AIGLX Desktop Acceleration
- XGL Desktop Acceleration



Kupilih aja No Desktop Acceleration, dengan asumsi barangkali ntar malah laptopku jadi lola loading lambat untuk proses Compiz-asi
dan kita menuju ke lingkungan desktop dengan login area berwallpaper slogan Sabayon: When art meets inspiration. Sabayon login dengan default desktop KDE.
Ada beberapa icon dalam desktop, bisa dilihat dalam screenshots untuk default LiveDVD desktop. Dari kemudahan yang kusebutkan pada paragraf kedua diatas, Sabayon memang sudah terlihat mudah. Dimulai dari testing via LiveDVD, dan prosedur instalasi dengan Icon “Install on Disk” sudah ada pada desktop.



Mari kita coba menginstall. Wah gagal, dan proses installasi selalu gagal setelah kuulang-ulang juga. Gara-garanya ya itu tadi, media DVDnya kotor jadi tidak terbaca
terpaksa kubakar ulang deh DVDnya. OK, kembali ke laptop dan prosedur instalasinya. Instalasi menggunakan Anaconda dengan model instalasi step-by-step yang memudahkan. Instalasinya lumayan lama karena besarnya sistem dalam media DVD dan kutinggal tiduran karena kutahu pastinya agak lama, jadi tidak kuhitung waktu selesai instalasinya berapa menit.
Sabayon dalam laptop ini terinstall dual-boot bersama Windows XP Home Edition. Satu hal yang selalu kucoba dalam mencoba Linux baru adalah apakah distro ini bisa secara langsung bisa mengakses NTFS. Eh, ternyata langsung bisa membaca dan menulis NTFS (read-write) tanpa harus instalasi paket ntfs-3g. Semua hardware terbaca dengan baik, resolusi video maksimal mencapai 1280×800 bisa langsung disetting, dan Compiz/Beryl juga bisa berjalan walau jadi agak berat sistemnya. Ethernet dan wireless card juga bisa langsung berjalan dengan baik di Sabayon, tidak perlu menginstal modul tambahan. Membakar (burning) CD menggunakan K3B juga bisa dilakukan dengan baik.



Dari segi tampilan, Sabayon memiliki ciri khas tersendiri, dengan warna merah hitam dan logo tapak kaki ayam. Namun kebanyakan themes dan wallpapernya masih bawaan KDE yang bisa dikustomisasi, dan dengan setting Compiz/Beryl yang mudah diaktifkan. Didalam Start Menu dengan KDE Kickoff (tampilan KDE baru hasil utak-atik desain ulang OpenSUSE 10.2), tersusun urutan Development, Games, Graphics, Internet, Multimedia, Office, Settings, System, Utilities, Desktop Search, dan Find Files/Folders. Beberapa aplikasi yang terinstall di dalamnya antara lain:
- Development: Assistant, BeanShell Prompt, Linguist, QT designer, User Interface Designer.
- Games: terisi banyak banget, jadi males nyebutin
- Graphics: diantaranya ada DjVu Viewer, GIMP, Inkscape, digiKam, Picasa, X-Sane, Kooka, dll.
- Internet: Google Earth, Azureus, Amule, FileZilla, Firefox, Pidgin, Kmail, Skype, dll.
- Multimedia: Amarok, MPlayer, Kaffeine, RealPlayer, Totem, VLC Media Player, dll.
- Office: OpenOffice 2.2, KOrganizer, Kontact, Evolution, dll.
- Settings: Acceleration Manager (memilih efek desktop, seperti pada awal booting masuk ke desktop LiveCD), Blutooth, Compiz, Emerald Theme Manager, GTK Style Manager, Java Control Panel, dan setting-setting default desktop yang lain.
- System: KlamAV, KPowerSave, Bluetooth Monitor, NVidia X Server Settings, Wine-Doors, Nmap, Virtual Machine Manager, dll.
- Utilities termasuk aplikasi-aplikasi utilitas bawaan desktop KDE maupun GNOME.



Untuk multimedia player, mp3 langsung bisa dimainkan dengan baik menggunakan Amarok, dan file video baik .dat maupun .mpg yang kusimpan dalam laptop bisa dimainkan juga menggunakan VLC Media Player.
Sabayon ini paket aplikasinya menggunakan portage untuk paket-paket aplikasi, berbeda dengan turunan Debian dengan .deb-nya ataupun Redhat dengan .rpm-nya. Paket Manager untuk instalasi paket bernama Portato dengan tampilan yang sederhana.



Dari berbagai aplikasi tersebut yang kuuji coba hanya yang umum-umum saja
ya karena diriku tidak terlalu banyak tahu mengenai semua aplikasi. Tapi untuk game-game ‘berat’ yang ada dalam Sabayon ini tidak kucoba, karena jelas VGA pasti tidak mendukung. Semua aplikasi yang dibuka secara bersamaan dan simultan bisa berjalan dengan baik. Semua hardware yang ada di laptop juga lancar berjalan dengan sangat baik, termasuk booting yang cepat. Dan menurutku Sabayon merupakan sistem yang stabil dan juga memiliki kualitas yang baik –yang (mungkin) memang– berasal dari kestabilan dari bapaknya, Gentoo.
Untuk catatan bahwa utak-atik Sabayon ini terinstall dari LiveDVD yang memang memiliki banyak paket lengkap terpasang didalamnya. Mungkin sangat berbeda jauh sekali untuk yang versi CD. Bagi pemula yang ingin mencoba dan merasakan “kekuatan” distro Sabayon Linux ini, mungkin lebih mendingan untuk menginstall yang versi DVD dengan aplikasi yang ‘wah’ terinstall didalamnya.
NB: Sumber screenshots diambil dari Galeri Sabayon, soale lagi males bikin screenshots
Popularity: 16% [?]
13 Comments to Review: Sabayon Linux 3.4
Terima kasih kepada Rifqi karena telah memberitahukan kalau form komentar pada field nama dan email dianggap kosong, padahal sudah terisi.
*fixed*
31 October 2007
wah ada yang baru lagi nih, terimakasih infonya
kapan2 kita bikin pelatihan instal linux sebayon OK
sip semoga sukses
3 November 2007
nama yang aneh
tapi layak dicoba juga tuh!
4 November 2007
halah aku lebih suka gnome..
sabayon pake KDE kan?
4 November 2007
@kus,
Sabayon untuk desktopnya secara default menggunakan KDE, namun sudah ada paket desktop GNOME juga didalamnya…
4 November 2007
Halo Bos…..
Ku tunggu Etch nya…
Eh.. sekalian ISO Kabayon eh si sabayon dink…
8 November 2007
layak coba..
nunggu orderan..
10 November 2007
duh pingin neh.., sayang kompiku ga punya dvd..
2 February 2008
bagus bgt tuh reviewnya,jd pengen ne pake sabayon.kemaren-kemaren aku install berbagai distro linux di laptop compaq presario v3000,dengan spek:
- AMD turion 64 x2 1,8 Ghz
- RAM 2 Gb
- Wireless broadcom 4312
- Nvidia geforce 6150
aku udah nyoba mandriva 2008 sampe gutsy gibbon.yang mandriva udah bisa lancar semua,kecuali wifi-nya gak mao jalan.pas pake gutsy wifi-nya jalan,eeeh malah ada 1 tombol keyboard yang gak dikenali,jd kadang mao booting kadang gak gt deh.pernah juga pake PClinuxOS 2007,semua lancar,tp 3D pake veryl g mao jalan,padahal driver nvidia udah terinstall semua.ampun deh!!!makanya jd pengen nyoba sabayon ne…makasih ya reviewnya!!
syukur2 kalo yang ngereview mao bagi2 DVDnya,kan download 4,5 Gb tuh gak gampang,apalagi kalo didaerah agak terpencil kyk rmhku ne….
3 March 2008
waduh….aku pake PCLinuxOS jadi pengen ganti lagi nih….oya aku kan pake presario v3000 nih, kira-kira hardware-nya di support semua ga ya? soalnya di PCLinuxOS ada hardware yang ga ke baca nih…(brightest applet, modem & card reader)
ngomong-ngomong thanx banget ya review-nya ya…ntar nyoba ah…
25 November 2008
Wah, boleh tuh dicoba, sayang untuk download versi DVD nya terlalu gede, bayangin aja sampe 4 hari, Kalau yang ngereview mau ngasih ngeburn DVD nya sih, kita siapin DVD kosongnya
Thank’s Reviewnya
14 January 2009
Boleh boleh boleh.
Pada minded nyobain distro langka kaya gentoo. Tapi klo sabayon ni dah di rangking 10. Tapi perlu definisi tepat ni tentang kata “ringan dan stabil”. Karena memang itu yang dicari oleh pengguna open source. So ringan lisensinya bahkan gratis.
17 March 2010
wiw aplikasinya komplit tapi aplikasinya yang lama…. hihihihihiiii tapi mantap dah buat sabayon…… yang terbaru versi brapa ya massss???
Leave a comment
Other Post
- WordPress 2.7 Released
- Upgrade (Lagi) WordPress 2.7 RC2
- Upgrade WordPress 2.7 RC1
- Ubuntu 8.10 Intrepid Ibex dirilis
- Instalasi Ubuntu Hardy Heron (8.04.1) di USB Flashdisk
- Menghilangkan Iklan (ads) di Yahoo Messenger 9
- Download Full Released Yahoo Messenger 9
- Mudah Belajar Scribus Desktop Publishing melalui HowTo dan Video Tutorial
- Menanti Kehadiran OpenOffice v3.0
- Upgrade lagi WordPress 2.6.2
- Membuat Screenshots pada Layar Nokia 6120 Classic
- Saatnya mengganti tampilan blog
- Tarif Layanan GPRS AXIS Membuatku Bingung
- Upgrade to WordPress 2.6.1
- Testing posting menggunakan Scribe via Nokia 6120 Classic
Categories
Archive
Links
Community
Partner
- Abdullah Rofii
- Adhi Y. Pradipto
- Agung Nugroho
- Alex Budiyanto
- Astik Kirna Murtiningsih
- Dani Iswara
- Fathir Hamdi
- Hanonsari Paramita
- Lala Cinila
- LiezMaya
- Lucius Tori Triastama
- Muhammad Rifqi
- Okto Silaban
- Salman Efendi
- Santent Tharayudi Kusuma
- Thomas Arie Setiawan
- Wenan Prakosa
- Willy Sudiarto Raharjo
- Yan Arief Purwanto
- Yuda Nugrahadi
Project
Senior
30 October 2007